Showing posts with label motivation. Show all posts
Showing posts with label motivation. Show all posts

Sunday, November 6, 2016

How to prioritize?

0 comments
"Egritha, which one should I prioritize: an event that demands just a little of my ability and duty or othet that needs a lot of my ability and duty?" a girl asked me.

"You should prioritize the very very first event that you decide to give all your ability and duty." I said.

There is no small or big duty. All actions need right responsibilty. How could God trust you for "things with bigger responsibility" if you just turned your back away when God let you handle "ordinary things"?
The point is remember whom you are serving for. Don't try to show off but down to earth. This is not about big or small duty. This is about DUTY.

Prioritize what you have taken first. Finish it well. And you can go for another.


NB: Some people who know me think that I am good at prioritize things. But no, I also had hard times, even I cried if I thought I couldn't make it. But one thing that keep me is I know what I am doing and I know whom I am serving.

Friday, September 25, 2015

Expectation


Ada saat ketika kita benar-benar berharap sesuatu akan menjadi kenyataan, justru malah jauh dari pandangan kita. Ada saat dimana kita benar-benar yakin sebuah takdir memihak pada diri kita, malah berbalik meninggalkan kita. Adapula saat bagaimana kita memutuskan suatu hal yang menurut kita baik, tapi belum tentu baik bagi orang lain. Menghadapi saat-saat seperti ini adalah salah satu yang tersulit dalam hidup. Karena begitu kita memberikan kepercayaan sepenuhnya, saat itu pula kepercayaan itu tiba-tiba goyah. Dalam menghadapi kejadian seperti ini, menangis adalah satu hal yang tidak bisa dihindari.
           

 Membayangkan hal buruk saja dapat merangsang air mata untuk mengalir membasahi pipi anda, apalagi ketika hal buruk itu terjadi. Anda akan menangis karena pada saat itu anda berpikir anda sungguh menyedihkan atau segalanya terjadi begitu menyedihkan dalam hidup anda. Anda terus menangis sambil menyesali apa yang telah anda lakukan sebelumnya. Kemudian satu persatu kenangan tentang pengorbanan  untuk mencapai visi anda berputar bagaikan video yang sedang ditonton. Anda mulai membuat perbandingan antara usaha dan hasil. Apabila anda mendapati bahwa usaha sebanding dengan hasil, maka saat itu anda merasa bahwa anda sukses atau mungkin anda lebih berpikir bahwa Tuhan adil kali ini. Sebaliknya apabila anda mendapati bahwa hasil lebih kecil daripada usaha anda, maka anda berpikir bahwa anda adalah seorang yang gagal dan menilai bahwa Tuhan tidak cukup adil. Orang-orang berkata hal seperti ini adalah cobaan atau ujian. Orang-orang berkata bahwa kita harus dapat menerima keadaan pahit dan manis seperti halnya roda yang berputar kadang diatas, kadang dibawah. Tapi benarkah Tuhan setega itu? Benarkah Tuhan mengoyahkan anda disaat anda sedang kokoh? Benarkah Tuhan menghancurkan harapan disaat anda sedang merajut mimpi-mimpi? Semuanya kembali lagi kepada diri anda. Mengintropeksi diri adalah hal yang paling tepat untuk dilakukan. Kenali lagi diri anda. Dimana anda telah melakukan kesalahan dan kekhilafan. Seperti yang kita tahu, tidak ada pekerjaan yang begitu sempurna sehingga kita perlu mengintropeksi dan membuat resolusi baru. Berdoalah pada Tuhan agar dimanapun ada mengambil tindakan, Tuhan memberkati pekerjaan anda. Lalu inti dari semua ini adalah walaupun suatu hal terjadi bertentangan dengan harapan anda, mari tetap berusaha dan berdoa.

Tuesday, August 25, 2015

Dedicated To My Little Sister

0 comments


"Perjalanan mencari pengalaman hidup itu adalah merantau. Sebuah ujian dan pendidikan jasmani-rohani; terakhir untuk membuktikan pengetahuan dan kehandalannyo di muka dunia. Alam semesta menjadi guru pembimbing; yang akan membedakan cahaya kebenaran dan cahaya kesalahan."
Mamak (narasi Christine Hakim) – Merantau

            Tulisan ini adalah ungkapan rinduku untuk adikku yang pertama, Cindy Amelia Tampubolon –seorang perantau di usia muda-. Entah kenapa hari ini sangat merindukanmu. Hari ini tidak berjalan baik. Aku merasa tidak menjadi diriku sendiri. Aku terus tersenyum dan tertawa sepanjang hari, tapi itu bukan aku. Tidak perlu ku ceritakan bagaimana hariku bisa menjadi buruk. Tulisan ini bukan untuk itu. Hanya saja hari ini aku begitu merindukanmu. Bukan hari ini saja, hari-hari yang lalu juga. Kapan terakhir kali kita bicara ya? Oh iya, waktu aku liburan beberapa minggu lalu. Waktu itu kamu menelponku, menangis dan bercerita tentang nilaimu yang buruk. Tapi sayang sekali situasinya tidak tepat, aku sedang sibuk mengerjakan tugasku. Saat itu aku tidak berpikir dengan jernih dan tidak memberikan masukan yang membangun. Katamu, nilaimu pada satu mata pelajaran tertentu sedang jelek, pelajaran *sebut saja: X * “Kenapa? Kok bisa? Hanya kau sajakah? Siapa lagi yang jelek nilainya?” tanyaku waktu itu. “Loh, kok bisa pelajaran X aja gitu?” tanyaku lagi. Benar-benar sebuah tanggapan yang bodoh. “Udahlah, gak usah dipikiri dek, fokus aja untuk pelajaran selanjutnya. Besok IPA –kimia, bio, fisika- kan? Yaudah fokus aja” Kataku lagi dengan asal. Kemudian tertambahkan olehku beberapa kata, “Lagian kenapa kau bisa jelek di pelajaran X? Emang ngapain aja kau?” Kau terus menangis dan berkata, “Belajarnya aku kak. Gak tau aku kenapa bisa gitu...” 

            “Yaudahlah, kadangkala hasil yang kita harapkan memang gak sesuai dengan kerja keras kita. Semangat aja ya.” Harusnya kata-kata itu menjadi obat ampuh pembangkit samangatmu waktu itu. Tapi bukan itu yang kukatakan, malah kalimat yang bersifat menge-judge keluar dari mulutku, “Gak mungkin kau belajar tapi hasilnya jelek. Itu gak mungkinlah. Kalo udah belajar pasti, sesuai dengan hasilnya nanti. Lagian, kalo udah belajar kau, berapa jam kau belajar? Kurangilah waktu tidurmu. Anak-anak olimpiade itu di SMA plus lain pun tidur hanya 3 jam aja. Selainnya membahas soal mereka. Gak bisa rupanya kau kurangi waktu tidurmu?” Tanyaku lebih bodoh. Kali itu, rupanya mamaku mendengar apa yang kukatakan. Heeh, serunya pelan. “Dia kan baru sakit,” Kata mamaku. Tapi aku tidak terlalu mengubris. Lalu secepatnya kamu katakan, “Iya kak. Belajar pun aku untuk besok. Udahlah ya” Dan telepon terputus –kamu mematikan teleponnya-

            Waktu itu aku sangat egois, dek. Bagaimana mungkin aku katakan padamu untuk mengurangi waktu tidurmu yang sebenarnya sangat singkat disana? Padahal aku jelas-jelas tahu bahwa kegiatan rutinitasmu sangat melelahkan disana, apalagi kamu baru sakit kemarin. Kamu harus bangun pagi-pagi sekali, kebersihan, mengerjakan segala sesuatunya sendirian –mencuci dan menggosok baju-, yang dulunya bibi –tukang cuci- yang mengerjakannya. Belum lagi dek, kamu harus mati-matian bersaing dengan teman-temanmu yang super pintar itu. Karena, aku sendiri pahami dek, sekolahmu bukanlah sekolah biasa. Kamu dituntut untuk bisa berkompetisi secara akademis –umumnya ditekankan IPAnya- disana. Bagaimana pun, aku percaya cara belajarmu yang dulu di SMP pastilah sangat jauh berbeda dengan yang sekarang ini. Aku yakin 10 kali lebih bagus. 

            Kamu mendapatkan sekolah yang lebih bagus. Kamu membuat kami bangga. Kami sungguh sangat mengharapkan kamu bisa meraih hal-hal yang kamu cita-citakan, yang lebih hebat daripada kami. Kami memimpikan kamu bisa kuliah di luar negeri seperti di Inggris atau Singapura, tapi kalau kamu juga mendapatkan universitas negeri terbaik seperti UI, UGM, ITB dan semacamnya tentu juga hal yang bagus.

            Maaf dek, aku tau kamu sangat capek disana. Capek belajar dan bekerja. Bahkan mungkin mengerjakan soal-soal latihan tidak sempat lagi, karena sudah banyak tugas dari sekolah. Kadang-kadang aku lupa kamu tinggal di asrama. Kadang-kadang aku lupa bagaimana sengitnya persaingan disana. Kadang-kadang aku lupa kamu butuh teman bicara. Mungkin karena aku tidak tinggal di rumah. Mungkin karena aku berkuliah dan terbiasa dengan tugas sampai-sampai telat tidur. Jadi, ku katakan waktu itu untuk mengurangi waktu tidurmu. Padahal durasi belajarmu di sekolah lebih lama daripada yang kuhadapi. Aku mengibaratkan kamu adalah temanku kuliah, jadi maaf waktu itu. ‘Kurangi waktu belajar’ adalah sesuatu yang sangat tidak pantas aku katakan karena kita sama-sama tau kamu selalu belajar giat. Kamu adalah orang yang cerdas dan serius terhadap tujuan-tujuanmu. Jadi kalau ada sesuatu yang tidak sesuai dengan harapanmu, bukan kamu yang disalahkan. Hanya saja, kamu tidak boleh mengeluh bahkan berputus asa. Kamu hanya perlu terus giat berusaha dan berdoa. Supaya keberuntungan itu jatuh ke tanganmu. Bagaimanapun, kamu sudah melakukan yang terbaik dan tidak ada seorang pun yang bisa meragukan itu. 

            Perlu kamu ketahui dek bahwa tidak ada satu hari pun kami lalui tanpa memikirkanmu. Kamu tinggal jauh dari orangtua yang sebelumnya tidak pernah kami bayangkan. Kamu yang paling bermalasan dahulu –dibandingkan kami- harus melakukan semuanya sendirian tanpa diawasi. Banyak perubahan yang ada dalam dirimu sekarang dek. Kalau di rumah, kamu jadi sering bangun pagi-pagi sekali walaupun hanya untuk nonton TV tapi itu sudah bagus sekali. Kamu juga sering mencuci pakaianmu sendiri di rumah, padahal aku sendiri yang berkuliah dan nge-kos malas mengerjakannya. Sungguh luar biasa perubahan yang kamu alami dek. Pernah suatu kali aku berpikir, mungkin inilah cara Tuhan mendidik kamu, menjadikan kamu seorang yang benar-benar mandiri. CaraNya menempamu menjadi seorang yang berhasil. Berarti Tuhan begitu menyayangi kamu sampai-sampai kamu diberikan kesempatan yang orang lain mungkin ingin mendapatkannya tapi tidak bisa. Bila saatnya berdoa, aku selalu mendoakanmu. Mendoakan supaya kamu betah, tahan dan mampu tinggal disana. Aku mendoakan supaya kamu mendapat teman yang baik disana. Supaya semangatmu semakin menyala-nyala di perantauan sana. Tidak jarang juga, aku membuat list namamu diantara topik doa teman-temanku agar mereka ikut mendoakanmu. Supaya kamu tahu betapa aku sangat memikirkanmu. Bukan memikirkan tentang pencapaianmu. Tetapi pada dirimu sendiri. Supaya kamu senang dan menikmati studimu disana. Karena kalau kamu senang, kami pun akan senang. 

            Ngomong-ngomong soal senang, kemarin aku senang sekali dengan berita bagusmu bahwa kamu juara 1 lomba essay se-Tobasa. Itu prestasi yang harus dipertahankan. Ternyata kamu mewarisi bakat menulisku, padahal kamu bukan anakku –agak ngawur-. Tetaplah menulis dan banyak-banyak membaca literatur supaya semakin luas pengetahuanmu. Banyak berlatih di soal- soal. Yang terpenting tetap berharap, tetap semangat, terus berusaha dan berdoa supaya semua yang baik dilimpahkan padamu. 

            Akhirnya, selesai juga tulisan dariku. Sebenarnya aku tulis ini karena sedang rindu padamu. Hari ini dan hari-hari sebelumnya. Semoga perasaan kita semakin membaik. 

“Sister. She is your mirror, shining back at you with a world of possibilities. She is your witness, who sees you at your worst and best, and loves you anyway. She is your partner in crime, your midnight companion, someone who knows when you are smiling, even in the dark. She is your teacher, your defense attorney, your personal press agent, even your shrink. Some days, she's the reason you wish you were an only child- Barbara alpert-“


                                                                                                                    Medan, 27 Februari 2014

Some Words

0 comments

So I have decided to be a small group leader (kind of Bible study group). But not because I am able to do that. I am nothing without His power. He showed me His love and I just coulldn't hold myself from spreading The Gospel. My days from last days is full of preparation to be a leader. We study The Holy Bible together with other leaders wannabe. I always enjoy it. I hardly have special time for writing. But when I got some minutes, I opened my book and started to write. Sorry for my messy handwriting. No table to write.
Please pray for me.
God bless you.




Wednesday, August 12, 2015

What Love is this?

0 comments
Ketika aku mendengar lagu "what love is this" dari Kari Jobe. Rasanya seperti terbekati sekali. Merasakan kasih Allah itu nyata dan baru setiap hari. Menyakini bahwa Tuhan memang hadir dan setia di sisiku.
Kadang-kadang aku berpikir bagaimana seseorang dapat memilih menjadi Atheis ketika mereka telah melihat hal-hal hebat di luar sana, ketika mereka telah mendengar kabar sukacita yang luarbiasa , ketika mereka menghadapi tantangan dan menyelesaikannya dengan baik. Apakah mereka benar-benar mengira bahwa itu semua kekuatan mereka? Pengetahuan mereka?


Aku, bahkan untuk satu hal yakni cinta yang bisa kurasakan setiap harinya. Itu sudah lebih dari cukup. Cinta mengalahkan segalanya. Kemasyuran, kekayaan, pengetahuan, dan kebaikan-kebaikan yang pernah ada. Cinta adalah satu-satunya sifat yang dapat mengubahkan. Siapakah yang menciptakan cinta yang begitu hebat ini, kalau bukan Tuhan Allah sendiri yang mengaruniakannya. Sebab Tuhan adalah cinta. Jika kamu melihat hal-hal baik terjadi dalam hidupmu, percayalah bahwa Ia memberikan kasihNya padamu. Jika kamu sedang dalam kesedihan, Ia sedang menguji kamu tanpa pernah meninggalkanmu. Silahkan lampiaskan segala perasaanmu padaNya, amarahmu, sedihmu, pertanyaan-pertanyaanmu karena Ia setia. Ialah Tuhan, tempat kita bersandar.

Sunday, July 26, 2015

Don't respond evil with evil

0 comments
“Don’t respond evil with evil”

This is a crazy thing to do, I think. Isn’t it hard to hold?
One treatment should have got the same treatment. Examples, a person smiles at you and you smile back. Your bestfriend gave you a present on your birthday and you alaso did the same. You helped an old man to across the street and next days, he helped you to find your relatives in a village. In other word, kindness respond with kindness.

Why kindness can be responded with kindness? Why we don’t to the same to evil?
If someone hit you, will you help him with his homework later? No, you wanted to slap him.
If a girl broke your heart, will you care about her grandfather’s death? No, you wished her to be sad whole time and missed you.
If your teacher cursed about your future, will you greet her if you meet her at mall oneday? No, you cursed her to get bad luck.

I know we always want to return other’s treatment to themselves. Even if it is evil and harm. But that’s absolutely wrong. If you respond evil with evil than you are as worthless as that person (who did evil to you). If we knew and realized when someone did wrong to us, then don’t do wrong to him. Because If we do wrong, then we create “ two wrongs” (evils). And you made more sins. You were succeed to raise his anger, and he believed that you are bad also just like him.
So, whoever you are, wherever you are, and what problems you are facing... Don’t respond evil with evil.
Respond evil with kindness. Spread love. Share joy. And be patient and joyful.

By doing this, you are succeed to beat yourself and everything. My favorite figure, Jesus Christ taught me about this. He used to did this when he is treated wrong by people. I know it’s hard, for me too. ButI try. I believe this thing is right. And I want to do this right thing in my life

There Is Someone

0 comments
There is someone
Who always lives in jealousy, egoism, and arrogancy
All of that master herself
Sometimes she is being nice and warm
But more often being rude
Her face shows cruelty
She is having trouble associating with many people
Hated by his friends
Hurt other people
Curse others

There's someone who is rude anyway
But within himself, he feels himself
He is just thirsty of affection
His love more than anything
His pity exceed aversion
Could not describe further
He is very complicated
Sentimental

There is someone
Who lives in a neutral position
Do not know what is he desired
Confused must be an evil or a good one
Confused to choose good or bad act
Pleasing others are his want
But firstly please himself
He had saved people without knowing it

There is someone
Very plain
Looks like she could determine which one is wrong and which is right
But she does not do it
She is afraid of hurting people
She wants peace

There is someone ...
Created by God
His manner was odd
Did God create the characters inherent in him?

Wednesday, October 16, 2013

Decision: Pick up what you like most!

0 comments


I 'm sure you 'd rather pick your options than prescribed by others . But , believe me selecting it is not easy . If you are faced with option A and option B.

A : An old saloon car given by your lovely parents. This is a car they bought after retiring , which 15 years ago you  really wanted.

B : A new car Mazda - Metro XVI gifted by your company that you achieve for your hardwork. This is a dream car of your family (husband/wife/children).


            If you are required to choose one of the options A or B , which one do you choose ?
Choosing either A or B is good , it depends on the value you put on your choice. In other words , it depends on your tastes (which one you like ) .

            Thus something happened to me, you can not judge me based on the option I took. Because who will live in it is myself. I must have been thinking about it carefully, so I decided . Opportunity from an option which is not taken when I selected the other option will be gone , but will never be useless. Let the opportunity gone for something better!

Fighting,
Egritha