Ada saat ketika kita benar-benar berharap
sesuatu akan menjadi kenyataan, justru malah jauh dari pandangan kita. Ada saat
dimana kita benar-benar yakin sebuah takdir memihak pada diri kita, malah
berbalik meninggalkan kita. Adapula saat bagaimana kita memutuskan suatu hal
yang menurut kita baik, tapi belum tentu baik bagi orang lain. Menghadapi
saat-saat seperti ini adalah salah satu yang tersulit dalam hidup. Karena
begitu kita memberikan kepercayaan sepenuhnya, saat itu pula kepercayaan itu
tiba-tiba goyah. Dalam menghadapi kejadian seperti ini, menangis adalah satu
hal yang tidak bisa dihindari.
Membayangkan hal buruk saja
dapat merangsang air mata untuk mengalir membasahi pipi anda, apalagi ketika
hal buruk itu terjadi. Anda akan menangis karena pada saat itu anda berpikir
anda sungguh menyedihkan atau segalanya terjadi begitu menyedihkan dalam hidup
anda. Anda terus menangis sambil menyesali apa yang telah anda lakukan
sebelumnya. Kemudian satu persatu kenangan tentang pengorbanan untuk mencapai visi anda berputar bagaikan
video yang sedang ditonton. Anda mulai membuat perbandingan antara usaha dan
hasil. Apabila anda mendapati bahwa usaha sebanding dengan hasil, maka saat itu
anda merasa bahwa anda sukses atau mungkin anda lebih berpikir bahwa Tuhan adil
kali ini. Sebaliknya apabila anda mendapati bahwa hasil lebih kecil daripada
usaha anda, maka anda berpikir bahwa anda adalah seorang yang gagal dan menilai
bahwa Tuhan tidak cukup adil. Orang-orang berkata hal seperti ini adalah cobaan
atau ujian. Orang-orang berkata bahwa kita harus dapat menerima keadaan pahit
dan manis seperti halnya roda yang berputar kadang diatas, kadang dibawah. Tapi
benarkah Tuhan setega itu? Benarkah Tuhan mengoyahkan anda disaat anda sedang
kokoh? Benarkah Tuhan menghancurkan harapan disaat anda sedang merajut
mimpi-mimpi? Semuanya kembali lagi kepada diri anda. Mengintropeksi diri adalah
hal yang paling tepat untuk dilakukan. Kenali lagi diri anda. Dimana anda telah
melakukan kesalahan dan kekhilafan. Seperti yang kita tahu, tidak ada pekerjaan
yang begitu sempurna sehingga kita perlu mengintropeksi dan membuat resolusi
baru. Berdoalah pada Tuhan agar dimanapun ada mengambil tindakan, Tuhan
memberkati pekerjaan anda. Lalu inti dari semua ini adalah walaupun suatu hal
terjadi bertentangan dengan harapan anda, mari tetap berusaha dan berdoa.
Showing posts with label experience. Show all posts
Showing posts with label experience. Show all posts
Wednesday, September 9, 2015
Dedicated to My Little Brother
Dedicated
to My Little Brother, Kevin
Adikku, Kevin Valentino yang sangat
kukasihi. Kau adalah alasanku untuk selalu mengucap syukur kepada Dia yang
berkuasa. Kau adalah orang yang paling ingin kulindungi dan kusaksikan dalam
kebesaranmu kelak.
Kevin adikku, kau tidak mengerti
satu apapun dan kau telah mengajarkan beribu nilai dalam ketidakpahamanmu.
Sifatmu yang begitu lugu dan polos membuat engkau semakin banyak dikasihi. Kau
melihat banyak keburukan pada dunia dan konsisten untuk tetap menjadi lebih
baik. Tetaplah lugu dan polos hingga dewasa nanti. Namun bertumbuhlah dengan
wawasan yang semakin luas dan bijaksana.
Telah dua bulan kau tinggal di
asrama dek. Aku terus bertanya-tanya apa saja yang kau lakukan disana. Apa yang
kau lakukan tanpa mama? Apa kau bisa bersenang-senang tanpa bapak? Apa kau
merindukan kakak-kakakmu? Aku harap kau bisa menikmati masa-masamu di asrama.
Pada teman-temanku selalu kukatakan
kau anak yang nakal. Tetapi kenakalan macam apakah yang bisa diperbuat oleh
adikku ini, sebab setiap perbuatannya menebar tawa bagi kami kemudian. Hingga
tak berhenti aku menggoda dirimu dan membangkitkan rasa kesalmu padaku.
Waktu lalu aku mendengar suaramu
setelah sebulan tidak bertemu dan berbicara denganmu, rasa haru terus menyesaki
dadaku. Ingin aku langsung merangkul dirimu seperti yang kulakukan dulu
terhadap adik kecilku ini. Bicaramu yang sangat sopan, tutur katamu yang lembut
telah menghanyutkan aku. Rupanya SMA semi militer telah mendidikmu sedemikian
rupa. Apa yang telah mereka lakukan pada adikku ini, pikirku. Mataku terus
berkaca-kaca karena begitu khawatir sekaligus bersyukurnya aku dengan
perubahanmu ini. Coba lihat, adikku yang dulu kerjanya hanya menghabiskan waktu
dengan game telah banyak berubah. Sikap rewelnya telah berubah menjadi mandiri
dan dewasa.
Kau tidak pernah mengatakan apapun,
tetapi aku tahu matamu. Kau melihat keluargamu sebagai harta yang paling
berharga. Aku tahu keluargamu adalah hal yang pertama ada di pikiran dan
hatimu. Kerinduanmu tak lain dan tak bukan hanya untuk keluarga. Keberadaanmu
menjadikan dunia lebih damai. Mungkin kau adalah hadiah dari surga itu.
Adikku Kevin, belajarlah dengan
sunguh-sunguh serta rajinlah berdoa kepada Tuhan. Karena orang yang
bersungguh-sungguh akan mendapat dan orang yang berserah kepadaNya akan
diberkati. Mimpilah yang besar. Kejarlah cita-citamu setinggi apapun. Jangan
pernah menyerah. Bila kau lihat kakak-kakakmu belajar dengan benar, tirulah
yang baik. Ambil saja semua kebaikan dalam diri kami. Jangan merasa rendah.
Jauh di dalam hati kami mengharapkan kau berdiri di atas puncak yang paling
tinggi.
Adik kesayangan kakak, aku berdoa
untukmu dan hidup yang kau jalani. Semoga Tuhan menyertaimu selalu. Aku
mengasihimu sekarang dan selamanya.
Friday, August 28, 2015
Cool Water and Fresh Grass
AIR SEJUK
DAN RUMPUT SEGAR
Terang hari cepat sekali berubah gelap.
Tahu-tahu
telah muncul cakrawala berbeda.
Aku temukan
banyak air jernih dan rumput segar yang mengisi kelaparanku.
Diajarkan
padaku tentang hidup.
Kukagumi
mereka seumur hidupku.
Kucintai
mereka karena kesetiaannya.
Pagi hari
aku memandangi mereka hingga puas.
Siang hari
aku merangkul mereka dengan erat.
Sore hari
aku bermain bersama.
Malamnya
kurindukan mereka.
Sampai
muncul pagi berikutnya, aku diingatkan oleh langit.
Ada padang lain
yang mesti dijalani.
Rasanya
sakit sekali sampai ke ulu hati.
Kupikir
takkan bisa hidup tanpa air jernih dan rumput segar.
Kuceritakan
pada mereka cerita langit.
Karena itu
yang bisa aku lakukan.
Aku
menjelajah belahan bumi lain.
Matahari dan
bulan dan pernah berhenti menyinariku.
Kutemukan
padang lain.
Padang
dengan air sejuk dan rumput segar.
Tetapi yang
sebelumnya tetap membuat hatiku gemetar.
NB: Tulisan
ini untuk orang-orang yang yang pernah ku temui dalam hidupku yang selalu
memotivasi dan menginspirasi (terutama untuk Coach MDC 2010 dan 2011).
Orang-orang yang membuatku menyukai mereka seumur hidupku. Mungkin kita tak
selalu bersama tetapi kebaikanmu tetap terkenang.
“Sebaik-baiknya
orang adalah ia yang bermanfaat bagi orang lain.”
Tuesday, August 25, 2015
Dedicated To My Little Sister
"Perjalanan mencari pengalaman
hidup itu adalah merantau. Sebuah ujian dan pendidikan jasmani-rohani; terakhir
untuk membuktikan pengetahuan dan kehandalannyo di muka dunia. Alam semesta
menjadi guru pembimbing; yang akan membedakan cahaya kebenaran dan cahaya
kesalahan."
Mamak (narasi Christine Hakim) – Merantau
Tulisan ini adalah ungkapan rinduku
untuk adikku yang pertama, Cindy Amelia Tampubolon –seorang perantau di usia
muda-. Entah kenapa hari ini sangat merindukanmu. Hari ini tidak berjalan baik.
Aku merasa tidak menjadi diriku sendiri. Aku terus tersenyum dan tertawa
sepanjang hari, tapi itu bukan aku. Tidak perlu ku ceritakan bagaimana hariku
bisa menjadi buruk. Tulisan ini bukan untuk itu. Hanya saja hari ini aku begitu
merindukanmu. Bukan hari ini saja, hari-hari yang lalu juga. Kapan terakhir
kali kita bicara ya? Oh iya, waktu aku liburan beberapa minggu lalu. Waktu itu
kamu menelponku, menangis dan bercerita tentang nilaimu yang buruk. Tapi sayang
sekali situasinya tidak tepat, aku sedang sibuk mengerjakan tugasku. Saat itu
aku tidak berpikir dengan jernih dan tidak memberikan masukan yang membangun.
Katamu, nilaimu pada satu mata pelajaran tertentu sedang jelek, pelajaran
*sebut saja: X * “Kenapa? Kok bisa? Hanya kau sajakah? Siapa lagi yang jelek
nilainya?” tanyaku waktu itu. “Loh, kok bisa pelajaran X aja gitu?” tanyaku
lagi. Benar-benar sebuah tanggapan yang bodoh. “Udahlah, gak usah dipikiri dek,
fokus aja untuk pelajaran selanjutnya. Besok IPA –kimia, bio, fisika- kan?
Yaudah fokus aja” Kataku lagi dengan asal. Kemudian tertambahkan olehku
beberapa kata, “Lagian kenapa kau bisa jelek di pelajaran X? Emang ngapain aja
kau?” Kau terus menangis dan berkata, “Belajarnya aku kak. Gak tau aku kenapa
bisa gitu...”
“Yaudahlah, kadangkala hasil yang
kita harapkan memang gak sesuai dengan kerja keras kita. Semangat aja ya.”
Harusnya kata-kata itu menjadi obat ampuh pembangkit samangatmu waktu itu. Tapi
bukan itu yang kukatakan, malah kalimat yang bersifat menge-judge keluar dari
mulutku, “Gak mungkin kau belajar tapi hasilnya jelek. Itu gak mungkinlah. Kalo
udah belajar pasti, sesuai dengan hasilnya nanti. Lagian, kalo udah belajar
kau, berapa jam kau belajar? Kurangilah waktu tidurmu. Anak-anak olimpiade itu
di SMA plus lain pun tidur hanya 3 jam aja. Selainnya membahas soal mereka. Gak
bisa rupanya kau kurangi waktu tidurmu?” Tanyaku lebih bodoh. Kali itu, rupanya
mamaku mendengar apa yang kukatakan. Heeh, serunya pelan. “Dia kan baru sakit,”
Kata mamaku. Tapi aku tidak terlalu mengubris. Lalu secepatnya kamu katakan,
“Iya kak. Belajar pun aku untuk besok. Udahlah ya” Dan telepon terputus –kamu
mematikan teleponnya-
Waktu itu aku sangat egois, dek.
Bagaimana mungkin aku katakan padamu untuk mengurangi waktu tidurmu yang
sebenarnya sangat singkat disana? Padahal aku jelas-jelas tahu bahwa kegiatan
rutinitasmu sangat melelahkan disana, apalagi kamu baru sakit kemarin. Kamu
harus bangun pagi-pagi sekali, kebersihan, mengerjakan segala sesuatunya
sendirian –mencuci dan menggosok baju-, yang dulunya bibi –tukang cuci- yang
mengerjakannya. Belum lagi dek, kamu harus mati-matian bersaing dengan
teman-temanmu yang super pintar itu. Karena, aku sendiri pahami dek, sekolahmu
bukanlah sekolah biasa. Kamu dituntut untuk bisa berkompetisi secara akademis
–umumnya ditekankan IPAnya- disana. Bagaimana pun, aku percaya cara belajarmu
yang dulu di SMP pastilah sangat jauh berbeda dengan yang sekarang ini. Aku
yakin 10 kali lebih bagus.
Kamu mendapatkan sekolah yang lebih
bagus. Kamu membuat kami bangga. Kami sungguh sangat mengharapkan kamu bisa
meraih hal-hal yang kamu cita-citakan, yang lebih hebat daripada kami. Kami
memimpikan kamu bisa kuliah di luar negeri seperti di Inggris atau Singapura,
tapi kalau kamu juga mendapatkan universitas negeri terbaik seperti UI, UGM,
ITB dan semacamnya tentu juga hal yang bagus.
Maaf dek, aku tau kamu sangat capek
disana. Capek belajar dan bekerja. Bahkan mungkin mengerjakan soal-soal latihan
tidak sempat lagi, karena sudah banyak tugas dari sekolah. Kadang-kadang aku
lupa kamu tinggal di asrama. Kadang-kadang aku lupa bagaimana sengitnya
persaingan disana. Kadang-kadang aku lupa kamu butuh teman bicara. Mungkin
karena aku tidak tinggal di rumah. Mungkin karena aku berkuliah dan terbiasa
dengan tugas sampai-sampai telat tidur. Jadi, ku katakan waktu itu untuk
mengurangi waktu tidurmu. Padahal durasi belajarmu di sekolah lebih lama
daripada yang kuhadapi. Aku mengibaratkan kamu adalah temanku kuliah, jadi maaf
waktu itu. ‘Kurangi waktu belajar’ adalah sesuatu yang sangat tidak pantas aku
katakan karena kita sama-sama tau kamu selalu belajar giat. Kamu adalah orang
yang cerdas dan serius terhadap tujuan-tujuanmu. Jadi kalau ada sesuatu yang
tidak sesuai dengan harapanmu, bukan kamu yang disalahkan. Hanya saja, kamu
tidak boleh mengeluh bahkan berputus asa. Kamu hanya perlu terus giat berusaha
dan berdoa. Supaya keberuntungan itu jatuh ke tanganmu. Bagaimanapun, kamu
sudah melakukan yang terbaik dan tidak ada seorang pun yang bisa meragukan itu.
Perlu kamu ketahui dek bahwa tidak
ada satu hari pun kami lalui tanpa memikirkanmu. Kamu tinggal jauh dari
orangtua yang sebelumnya tidak pernah kami bayangkan. Kamu yang paling
bermalasan dahulu –dibandingkan kami- harus melakukan semuanya sendirian tanpa
diawasi. Banyak perubahan yang ada dalam dirimu sekarang dek. Kalau di rumah,
kamu jadi sering bangun pagi-pagi sekali walaupun hanya untuk nonton TV tapi
itu sudah bagus sekali. Kamu juga sering mencuci pakaianmu sendiri di rumah,
padahal aku sendiri yang berkuliah dan nge-kos malas mengerjakannya. Sungguh
luar biasa perubahan yang kamu alami dek. Pernah suatu kali aku berpikir,
mungkin inilah cara Tuhan mendidik kamu, menjadikan kamu seorang yang
benar-benar mandiri. CaraNya menempamu menjadi seorang yang berhasil. Berarti
Tuhan begitu menyayangi kamu sampai-sampai kamu diberikan kesempatan yang orang
lain mungkin ingin mendapatkannya tapi tidak bisa. Bila saatnya berdoa, aku
selalu mendoakanmu. Mendoakan supaya kamu betah, tahan dan mampu tinggal
disana. Aku mendoakan supaya kamu mendapat teman yang baik disana. Supaya
semangatmu semakin menyala-nyala di perantauan sana. Tidak jarang juga, aku
membuat list namamu diantara topik doa teman-temanku agar mereka ikut mendoakanmu.
Supaya kamu tahu betapa aku sangat memikirkanmu. Bukan memikirkan tentang
pencapaianmu. Tetapi pada dirimu sendiri. Supaya kamu senang dan menikmati
studimu disana. Karena kalau kamu senang, kami pun akan senang.
Ngomong-ngomong soal senang, kemarin
aku senang sekali dengan berita bagusmu bahwa kamu juara 1 lomba essay
se-Tobasa. Itu prestasi yang harus dipertahankan. Ternyata kamu mewarisi bakat
menulisku, padahal kamu bukan anakku –agak ngawur-. Tetaplah menulis dan
banyak-banyak membaca literatur supaya semakin luas pengetahuanmu. Banyak
berlatih di soal- soal. Yang terpenting tetap berharap, tetap semangat, terus
berusaha dan berdoa supaya semua yang baik dilimpahkan padamu.
Akhirnya, selesai juga tulisan
dariku. Sebenarnya aku tulis ini karena sedang rindu padamu. Hari ini dan
hari-hari sebelumnya. Semoga perasaan kita semakin membaik.
“Sister. She is your mirror,
shining back at you with a world of possibilities. She is your witness, who
sees you at your worst and best, and loves you anyway. She is your partner in
crime, your midnight companion, someone who knows when you are smiling, even in
the dark. She is your teacher, your defense attorney, your personal press
agent, even your shrink. Some days, she's the reason you wish you were an only
child- Barbara alpert-“
Medan, 27 Februari 2014
The Man
Posted by
egritha tampubolon
at
10:06 AM
0
comments
Labels: experience, family, inspiration, my life
Labels: experience, family, inspiration, my life
That was midnight. Around 02:00 am, my body suddenly got
itchy.
The more I stretched, the more itching my body became.
My mom was worried and panic.
There was a doctor’s clinic about 500 m from our home.
At that time, we just had one motorcycle, it was broken.
That night I still remembered; I had thought that I would
just stay up until morning.
However, that man immediately carried me, put me on his
shoulder and took me to the clinic.
It was very dark outside, but I could say this man, with his
brave and strength, he would protect me.
He walked 500 m in cold air at a very early morning.
We arrived at the closed clinic.
Bad luck for us and this man seemed to be upset, he thought
it was 24-hour clinic.
He brought me back home, made me a hot tea.
I did not remember the end of the story.
But I did notice the man very well.
My life and love.
He is my dad.
The first human who taught to a 6-year-old girl about
sacrifice.
Monday, July 27, 2015
Catch The Moment
I just opened and found many old writings in Lappy. There are some in my mobile phone.
There is no costant thing. But changed as time passed by.
I try to write some touching story, great experiences, wise lessons while I am facing it.
I want it lasts forever.
I want to keep them safely in head.
But oneday, when I get old and I hardly memorize everything.
I will read my old writings.
Feel it everyday.
For Them Whom I missed Alot (That Time)
“Memories warm you up from the
inside. But they also tear you apart.”
Talylor Swift ever said that she is
the victim of growing up. Maybe, I am too. I’m 19 now and I just realized it
two days ago. It’s quite funny because I was 19 from last February 2014. It’s
always like I’m 18. Whoah, it’s been almost a year that we separated (although
it’s not a real separation, because I always can see you whenever I want to,
hahaha!). But it’s different nowdays because we all are busy in our own
bussiness. Even texting each other is something hard to do now. Then if
someone begins to say hello, the others
will be mad and say, “why you just texted me just now? Arrogant!” And that’s
the way of us to appreciate the greeting which will create ignorant in us.
I hate ignorant. Because I don’t want
to be ignored. Do you? No right? So, what the hell are you guys doing in your
so busy time? Studying? Studying? Or studying? Oh my God, don’t say that you
are targetting 4 GPA (yes, I know you are). I want that too -.-“ Do have some
fun in your so intensive time! I think you already did that. Because I’ve ever
been a part of you guys. I mean, I am still a part of you. It’s just I ever
felt the way we studying and playing together. Maybe it’s just me who don’t
have some fun. Not because I have no
spare time for this. I do have. But... I don’t have people to hang out with.
There are so many people here, girls,
boys... yeah they are cool enough to accompany me to some nice places. But they
are not as cool as you. They are not as cool as us. Not funny as us. We always
have something to talk about. Campus, lesson, tecnology, movie, song,
motivator, Holy Bible, road, holidays... yeah we always have something to argue
with.
Being together with you is really
different with others. I don’t know if this is just my own feeling. Because a
half of me is also melancholic person. But if it is just my feeling, then it is
your destiny to be friend with me. Because I never ever forget people who ever
been closed to me, especially you! I’ve always missed you. We spent good time
together in long terms. So how could I
forget all the things we’ve been through?
We laugh at simple things. We make
things funny.
You guys are so amazing. There’s no
others like you. And will never be replaced. You are my best friend for
studying and you are my best friend when I am playing. Just so you know, it’s
hard to find friend to study and play with. Because some people who want to
study are opportunist. They are besides us when they need our help. Or they get
close with us because they know we have ‘something’ (read: smart). But if one
day we have bad score, they’ll leave us because they think they are greater
than us.
Some people who want to play are
spender. They are very good in spending money. They’ll have lunch in big cafe
and restaurants, watch every new movie in cinema, have karaoke after classes,
and travel to some places in only one free day (while I will use that time to
read my books huhu). The most important is you have to have much money. People
like this is totally not my type. I can handle an opportunist, but for spender
I get away from them.
That’s why guys. There’s no one like
you. We have a good friendship. We study when we study. We play when we play.
Our friendship is healthy. We warn each other if we are going to do wrong
things. We support each other. And we pray for each other. Then tell me how can
I find someone like you?
I’ll never can. You are such a great friend.
I’ll never can. You are such a great friend.
Medan,
August 7th 2014
Egritha
Tampubolon
Subscribe to:
Posts (Atom)



